Kamis, 01 Mei 2014

JURNAL KARYA ILMIAH



PENGGUNAAN MEDIA ANIMASI POWER POINT
 UNTUK MENINGKATKAN KEMAMPUAN MEMBACA UJARAN PADA ANAK TUNARUNGU KELAS IV SD 

Penelitian Dilakukan di SDN Inklusif Tunas Harapan Cijerah Kota Bandung
Tahun Pelajaran 2013/ 2014

Oleh :
Ahmad Junaedi
Universitas Pendidikan Indonesia
ABSTRAK

Penelitian ini bertujuan ingin mengetahui penggunaan media animasi power point untuk meningkatkan kemampuan membaca ujaran pada anak tunarungu yang duduk di kelas IV SDN Tunas Harapan Cijerah Kota Bandung sekolah penyelenggara inklusi. Dalam penelitian ini yang menjadi variable bebasnya adalah penggunaan media animasi power point dan variable terikatnya adalah meningkatkan kemampuan membaca ujaran anak tunarungu kelas IV di sekolah inklusif. Kenyataan di lapangan peneliti menemukan anak tunarungu yang kesulitan dalam membaca ujaran terutama di sekolah inklusif, dimana anak tunarungu kurang dilatih dalam membaca ujaran. Tujuan melatih membaca ujaran adalah agar anak tunarungu dapat berkomunikasi dengan lingkungan baik guru, teman sebaya dan masyarakat luas. Metode yang digunakan oleh peneliti adalah Single Subject Research. karena subjek yang akan diteliti berjumlah satu orang sehingga pada saat kesimpulan nanti hanya tertuju pada subjek yang bersangkutan dan tempat yang telah ditetapkan. Adapun desain yang digunakan dalam SSR adalah A-B-A A-1 (baseline-1), B (treatment) dan A-2 (baseline-2). Penelitian kuantitatif dengan jenis SSR ini dilakukan sebanyak tiga fase dimana fase pertama atau baseline-1 (A-1) sebanyak enam kali menunjukkan kinerja anak masih stagnan, fase kedua yakni treatment (B) sebanyak sepuluh kali ada peningkatan yang cukup baik dan pada fase ketiga yakni baseline-2 (A-2) sebanyak lima kali menunjukkan terus meningkat. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa media animasi power point dapat meningkatkan kemampuan membaca ujaran pada anak tunarungu kelas IV di sekolah inklusif yakni di SDN Tunas Harapan Cijerah Kota Bandung tahun pelajaran 2013/2014. Peneliti menyarankan kepada guru untuk menggunakan media animasi power point sebagai media pembelajaran, kepada orangtua agar sering melatih membaca ujaran dengan berbagai media, peneliti lain agar bisa dijadikan reverensi untuk penelitian selanjutnya.
Kata kunci: Media animasi power point; peningkatan membaca ujaran; anak tunarungu; sekolah inklusif


A. PENDAHULUAN

Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatir terhadap (kesejahteraan) mereka. Oleh sebab itu hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar (Q.S. An-Nisa: 9).

Undang-Undang No.20 Tahun 2003 yaitu tentang Sistem Pendidikan Nasional (Sisdiknas) pasal 5 ayat 2 menyebutkan bahwa “Warga Negara yang memiliki kelainan fisik emosional intelektual dan atau sosial berhak memperoleh pendidikan khusus”.
Upaya mencerdaskan bangsa sebagaimana diamanatkan oleh Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 alinea keempat terkait pada beberapa aspek diantaranya adalah bahasa. Bahasa merupakan alat yang vital bagi kehidupan manusia, dipergunakan untuk mengadakan hubungan-hubungan dengan manusia lain.
       Menurut Somad, P dan Hernawati, T. (1995:142) ‘membaca ujaran atau speech reading adalah suatu kegiatan yang mencangkup pengamatan visual dari bentuk dan gerak bibir lawan bicara sewaktu dalam proses bicara’.
Anak tunarungu mengalami kesulitan dalam membaca ujaran dari orang lain dikarenakan kurang dilatih dalam hal membaca ujaran. Untuk meningkatkan kemampuan membaca ujaran, maka perlu dilatih agar pesan yang disampaikan kepada anak tunarungu dapat diterima dengan baik. Salah satu media yang bisa digunakan untuk melatih membaca ujaran adalah media komputer. Dengan adanya komputer sebagai media pembelajaran tentu dapat membantu siswa memahami suatu bahan ajar dasar secara menyenangkan, sehingga anak tunarungu termotivasi dalam pembelajaran serta merasakan adanya suatu pembaharuan dalam pembelajaran.
Melatih membaca ujaran menggunakan animasi power point merupakan salah satu kegiatan yang penting untuk meningkatkan kemampuan membaca ujaran pada anak tunarungu yang mengalami kesulitan dalam membaca ujaran di sekolah reguler yang menyelenggarakan inklusif. Alasan menggunakan media animasi power point adalah agar memudahkan peneliti dalam melakukan treatment atau intervensi, disamping itu penggunaan media animasi power point lebih efektif dan efisien dibandingkan secara konvensional atau media lain.
Membaca ujaran mempunyai tujuan agar anak mampu menangkap atau membaca apa yang diutarakan oleh orang lain, yang tujuan luasnya agar anak mampu menangkap segala apa yang diucapkan oleh guru sesuai dengan tujuan dan substansi setiap mata pelajaran.
Inklusif adalah program pendidikan yang mengakomodasi semua anak tanpa kecuali termasuk anak tunarungu. Berangkat dari permasalahan di atas, maka penulis mengadakan penelitian yang berjudul “Penggunaan Media Animasi Power Point Untuk Meningkatkan Kemampuan Membaca Ujaran Pada Anak Tunarungu kelas IV di SD Inklusif Tunas Harapan Cijerah Bandung Tahun Pelajaran 2013/ 2014.


B. METODE PENELITIAN

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah Single Subject Research. Sunanto, dkk (2006) mengatakan bahwa ‘SSR adalah suatu metode yang bertujuan untuk memperoleh data yang diperlukan dengan melibatkan hasil tentang ada tidaknya akibat dari suatu perlakuan yang diberikan secara berulang-ulang dalam waktu tertentu’.
Alasan peneliti menggunakan SSR karena subjek yang akan diteliti satu orang sehingga pada saat kesimpulan nanti hanya tertuju pada subjek yang bersangkutan dan tempat yang telah ditetapkan. Desain yang digunakan dalam SSR adalah A-B-A, A-1 (baseline-1), B (treatment) dan A-2 (baseline-2), alasan menggunakan desaian A-B-A ini adalah dimana desain ini dapat menunjukkan sebab akibat suatu intervensi terhadap variabel terikat. Peneltiian SSR dengan desain A-B-A, yaitu untuk mengetahui apakah terdapat hubungan antara variable bebas dengan variable terikat (Sunanto, dkk, 2006:44).
Jenis ukuran yang digunakan untuk mengukur target behavior adalah Persentase. Menurut Sunanto, dkk (2005:15).
Persen atau persentase merupakan satuan pengukuran variabel terikat yang sering digunakan oleh peneliti dan guru untuk mengukur perilaku dalam bidang akademik maupun sosial. Persen menunjukkan jumlah terjadinya suatu perilaku atau peristiwa dibandingkan dengan keseluruhan kemungkinan terjadinya peristiwa tersebut kemudian dikalikan dengan 100%.
     Penelitian dalam SSR ini ditujukan pada satu anak tunarungu saja yakni Maya. Keadaan subjek secara fisik tidak berbeda dengan yang lainnya, subjek memiliki hambatan pendengaran sejak lahir sehingga secara keseluruhan ketika bergaul dengan teman sebayanya tidak mengalami hambatan, namun ketika berkomunikasi dengan orang lain anak ini mengalami kesulitan dan menarik diri dari lingkungan. Alasan peneliti memilih subjek di atas karena hasil dari observasi terdahulu dimana subjek tersebut sangat rendah dalam membaca ujaran serta suara tidak keluar sehingga mengalami kesulitan dalam menjalin komunikasi dengan orang normal lainnya. Untuk kegiatan penelitian SSR ini dilakukan di SD Negeri Tunas Harapan Cijerah Kota Bandung sebuah sekolah yang menyelenggarakan program inklusif sejak tahun pelajaran 2002/2003. Tepatnya di ruang multimedia yang dikhususkan untuk kegiatan pembelajaran menggunakan multimedia elektronik seperti komputer, infokus, proyektor, cd, dan lain-lain. Dalam penelitian ini setelah data terkumpul peneliti melakukan analisis langsung secara kritis kemudian ditafsirkan secara hati-hati dan pada akhirnya ditarik kesimpulan secara bertahap hingga tujuan yang diharapkan tercapai. Langkah analisis tersebut yaitu reduksi data, display data, verifikasi dan kesimpulan.

Data Analisis
    

Menurut Sunanto, J. (3005:21) bahwa penelitian dengan SSR yaitu penelitian degnan subjek tunggal dan prosedur peneltiian menggunakan desain eskperimen untuk melihat pengaruh perlakuan terhadap perubahan perilaku.
1. Analisis Dalam Kondisi
Menurut Sunanto, dkk (2005: 96) Analisis dalam kondisi adalah
Menganalisis perubahan data dalam satu kondisi misalnya kondisi baseline atau kondisi intervensi, sedangkan komponen yang akan dianalisis meliputi komponen seperti yang dibicarakan di atas yakni tingkat stabilitas, kecenderungan arah, dan tingkat perubahan (level change).
   Analisis dalam kondisi pada penelitian ini dimaksudkan adalah data dalam grafik masing-masing kondisi dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Menentukan Panjang Kondisi
b.      Menentukan Estimasi Kecenderungan Arah
c.       Menentukan Kecenderungan Kestabilan
d.      Menentukan Jejak Data
e.       Menentukan Level Stabilitas Dan Rentang
f.       Menentukan Level Perbubahan
2. Analisis Antar Kondisi
Sunanto, dkk (2005: 117) mengatakan untuk memulai menganalisa perubahan data antara kondisi, data yang stabil harus mendahului kondisi yang akan dianalisa. Karena jika data bervariasi (tidak stabil), maka akan mengalami kesulitan untuk menginterpretasi. Adapun komponen dalam analisis antar kondisi adalah:
a.       Menentukan banyak variabel yang berubah
b.      Menemukan perubahan kecenderungan arah
c.       Menemukan perubahan kecenderungan stabilitas
d.      Menentukan level perubahan
e.       Menentukan persentase overlape data kondisi baseline dan intervensi.


C. HASIL DAN PEMBAHASAN

Penelitian ini bertujuan memperoleh gambaran mengenai penggunaan media animasi power point untuk meningkatkan kemampuan membaca ujaran pada anak tunarungu yang akan dibahas dalam bab ini. Target behavior dalam penelitian ini yaitu ketepan dalam menulis kata yang diucapkan peneliti. Jumlah subjek dalam penelitian ini adalah satu orang anak tunarungu kelas IV di SD Negeri Tunas Harapan Cijerah Kota Bandung, salah satu sekolah penyelenggara program inklusif.
Kemampuan subjek “MY” dalam membaca ujaran yang dituangkan ke dalam tulisan pada kondisi baseline-1 (A-1), intervensi (B) dan baseline-2 (A-2) dapat ditampilkan dalam tabel dan grafik berikut:
1. Kondisi Baseline-1 (A-1)
Data baseline diperoleh melalui tes menulis kata yang diucapkan peneliti. Kegiatan ini dilakukan enam sesi atau sampai data yang diperoleh stabil dalam kurun waktu satu jam setiap sesinya dengan menggunakan jenis ukuran target behavior persentase, berapa persenkah anak mampu membaca ujaran yang dibuktikan dengan tulisan.



 















Grafik 4.4
Kondisi Baseline 1 (A-1)

Pada hari pertama sampai hari keenam terlihat perubahan data yang tidak terlalu signifikan, kemampuan anak hanya berkisar antara enam sampai delapan dalam membaca ujaran yang dibuktikan dengan tulisan. Pada sesi keenam didapatkan hasil yang sama ketika sesi keempat dan kelima dilakukan pengamatan, maka peneliti menghentikan pengamatan tersebut dan dilanjutkan dengan memberikan treatment/ intervensi pada hari berikutnya sesuai dengan waktu yang telah disepakati bersama.
2. Kondisi Intervensi (B)
   Pada kondisi intervensi peneliti memberikan perlakuan dengan memberikan media animasi power point berupa tayangan gambar benda, kata dan video ujaran. Data dilakukan setiap kali pengamatan sebanyak 10 kali pengamatan atau sampai keadaan stabil. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut ini:
Untuk subjek dengan inisial “MY” didapatkan hasil skor berikut ini:



 
  










Grafik 4.6
Kondisi Intervensi (B)


   Peneliti menghentikan pengamatan pada pengamatan ke-10 karena data yang diperoleh telah stabil, yaitu anak terlihat sudah mampu menulis kata yang diucapkan peneliti.
3. Kondisi Baseline-2 (A-2)
   Pada kondisi Baseline-2 (A-2) peneliti memberikan soal tanpa menggunakan media animasi power point. Data dilakukan setiap kali pengamatan sebanyak lima kali pengamatan atau sampai data tersebut benar-benar stabil, Untuk subjek dengan inisial “MY” didapatkan hasil skor berikut ini:




 







Grafik 4.8
Kondisi Baseline-2 (A-2)
  

Peneliti menghentikan pada pengamatan kelima karena data yang diperoleh telah stabil, yaitu anak terlihat sudah mampu menulis kata yang diucapkan peneliti tanpa bantuan media animasi power point.
4. Analisis Data
1. Analisis Dalam Kondisi
a. Menentukan Panjang Kondisi

Tabel 4.9. Panjang Kondisi
Kondisi
A1
B
A2
1. Panjang Kondisi
6
10
5


Terlihat dari tabel yang disajikan, pada kondisi baseline-1 (A-1) sebelum intervensi dilakukan sebanyak enam kali pengamatan, sedangkan pada kondisi intervensi (B) dilakukan sebanyak 10 kali pengamatan, dan pada kondisi baseline-2 (A-2) setelah tidak diberikan intervensi sebanyak lima kali pengamatan.
b. Menentukan Estimasi Kecenderungan Arah
Adapun langkah-langkah dalam menggunakan metode Split Middle yaitu :
1)    Bagilah data pada fase baseline-1 (A-1) menjadi 2 bagian yang sama yaitu kiri dan kanan maka garis yang membaginya ada diantara dua data dilambangkan dengan (1).
2)    Membagi jumlah titik data yang telah dibagi diatas menjadi dua bagian yang sama (mid date) yaitu kiri dan kanan, dilambangkan dengan (2a).
3)    Tentukan posisi median dari masing-masing belahan, dilambangkan dengan (2b).
4)    Menarik garis lurus yang terputus-putus dari dua titik temu antara (2a) dan (2b).

grafik SSR.jpg
 
                 





Grafik 4.10
Kecenderungan Arah Data Pada Fase
Baseline-1 (A-1), Intervensi (B) dan Baseline-2 (A-2).


Berdasarkan grafik 4.7 dapat dilihat kecenderungan arah pada kondisi baseline-1 (A-1) mendatar, pada kondisi intervensi (B) kecenderungan arah datanya menunjukkan perubahan atau kenaikan yang sangat berarti setelah diberikan perlakuan, dan pada kondisi baseline-2 (A-2) kecenderungan arahnya meningkat.
c. Menentukan kecenderungan kestabilan atau trend stability.
1)     Kecenderungan kestabilan fase baseline-1 (A-1)
Kecenderungan kestabilan fase baseline-1 (A-1) dapat dihitung dengan langkah sebagai berikut:
a)      Menentukan kecenderungan kestabilan atau trend stability dengan menggunakan kriteria stabilitas 15%.
Diketahui skor tertinggi = 35%, kriteria stabilitas: 15% = 0,15. Rentang stabilitas = Skor tertinggi x Kriteria stabilitas. Dapat ditulis 35 x 0,15 = 5,25. 
b)      Menghitung mean level yaitu skor dijumlahkan dan dibagi dengan banyak data poin.
Diketahui:  skor = 210, banyak poin = 6. Maka mean levelnya adalah 210 : 6 = 35.
c)      Menentukan batas atas yaitu mean level + (½ rentang stabilitas). Batas atas = 35 + 2,63 = 37,63.
d)     Menentukan batas bawah = mean level – (½ rentang stabilitas) Batas bawah = 35 + 2,63 = 32,38.
e)      Menentukan persentase stabilitas: banyak data poin dalam rentang antara batas atas dan batas bawah : banyak data poin x 100%. Persentase stabilitasnya adalah 4 : 6  x 100% = 66,67%.
2). Kecenderungan kestabilan fase intervensi (B)
Kecenderungan kestabilan fase intervensi (B) dapat dihitung dengan langkah sebagai berikut :
a)      Menentukan kecenderungan kestabilan (trend stability) dengan menggunakan kriteria stabilitas 15%.
Diketahui skor tertinggi 75, Rentang stabilitas = 15%. Maka 75 x 0,15 = 11,25.
b)      Menghitung mean level yaitu skor dijumlahkan dan dibagi dengan banyak data.
Diketahui: Skor = 380, Banyak data poin = 10, Maka mean levelnya adalah 380 : 10 = 38.
c)      Menentukan batas atas yaitu mean level + (½ rentang stabilitas).
Diketahui: Mean level = 38, ½Stabilitas kecenderungan = 5,63. Maka batas atas = 38 + 5,63 = 43,63.
d)     Menentukan batas bawah = mean level – (½ rentang stabilitas). Mean level = 38, ½Stabilitas kecenderungan = 5,63. Maka batas bawah = 38 – 5,63  = 32,38.
e)      Menentukan persentase stabilitas: data poin dalam rentang antara batas atas dan batas bawah : banyak data poin. Persentase stabilitasnya adalah 2 : 10 x 100% = 20.
3). Kecenderungan kestabilan fase baseline-2 (A-2)
Kecenderungan kestabilan fase baseline-2 (A-2) dapat dihitung dengan langkah sebagai berikut :
a)      Menentukan kecenderungan kestabilan (trend stability) dengan menggunakan kriteria stabilitas 15%.
Diketahui: Skor tertinggi = 85, Rentang stabilitas = 15%. Maka  85 x 0,15 = 12,75.
b)      Menghitung mean level yaitu skor dijumlahkan dan dibagi dengan banyak data.
Diketahui Skor = 370, Banyak data poin = 5. Maka mean levelnya adalah 370 : 5 = 74.
c)      Menentukan batas atas yaitu mean level + (½rentang stabilitas).
Diketahui mean level = 74,  ½rentang stabilitas  = 6,38. Maka batas atasnya adalah 74 + 6,38 = 80,38.
d)     Menentukan batas bawah = mean level – (½ rentang stabilitas). Diketahui mean level = 74,  ½rentang stabilitas  = 6,38. Maka batas bawahnya adalah 74 – 6,38 = 67,63.
e)      Menentukan persentase stabilitas = data poin dalam rentang antara batas atas dan batas bawah : banyak data poin. Persentase stabilitasnya adalah 0 : 5  x 100% = 0%.
Membandingkan kondisi baseline-1 (A-1), intervensi (B) dan basline-2 (A-2)





 
 







Grafik 4.11
Stabilitas Kecenderungan

d

. Menentukan Kecenderungan Jejak Data
Pada fase baseline-1 (A-1) data tidak stabil, fase intervensi (B) data mulai stabil dan fase baseline-2 (A-2) terlihat data terlihat semakin stabil, terlihat grafik yang semakin meningkat.
e. Menentukan Stabilitas Tingkat dan Rentang
Berdasarkan data kemampuan anak dalam membaca ujaran dilihat data kondisi baseline-1 (A-1) bervariasi (tidak stabil) dengan rentang 32,38% - 35% Pada kondisi intervensi data mulai stabil dengan rentang 38% - 75%. Dan pada kondisi baseline-2 (A-2) data stabil dengan rentang 50%-85%.
f. Menentukan Level Perubahan
Dari sesi pertama kemampuan membaca ujaran siswa tunarungu pada fase baseline-1 (A-1) adalah data terendah 30% dan data tertinggi 35% selisihnya adalah 5% sehingga perubahan meningkat 5%. Data pertama fase intervensi (B) adalah data terendah 30% dan data tertinggi 75% maka selisihnya adalah 45% meningkat sebanyak 45%. Sedangkan pada fase baseline-2 (A-2) data terendah adalah 50% dan data tertinggi 85%. Maka selisihnya adalah 45% meningkat sebanyak 45%.
2. Analisis Antar Kondisi
a. Menentukan variabel yang berubah
Variabel yang diubah dalam penelitian ini yaitu kemampuan membaca ujaran anak tunarungu di sekolah inklusif.
b. Menentukan Perubahan Kecenderungan Arah
Kemampuan anak dalam membaca ujaran selama kondisi baseline-1 (A-1) cenderung menurun (-) meskipun sedikit, dan pada kondisi intervensi (B) kemampuan anak terus meningkat (+), sedangkan pada kondisi baseline-2 (A2) terus naik (+) meskipun ada penurunan sedikit namun dibandingkan dengan waktu intervensi, pada baseline 2 ini lebih meningkat sehingga pemberian intervensi berpengaruh positif terhadap variabel yang diubah.
c. Menentukan Perubahan kecenderungan Stabilitas
Dapat dikatakan bahwa pada kondisi baseline-1 (A-1) kemampuan anak dalam membaca ujaran masih rendah, pada kondisi intervensi (B) kemampuan anak dalam membaca ujaran terlihat ada perubahan pada peningkatan. Pada kondisi baseline-2 (A-2) juga meningkat.
d. Menentukan level perubahan
Kemampuan membaca ujaran pada akhir kondisi baseline 35% dan data pertama intervensi 30%. Perubahan kecenderungan stabilitas 30% - 35% = -5%. Jadi kemampuan anak dalam membaca ujaran pada intervensi menurun 5% dari kondisi baseline
e. Menentukan persentase overlape
Kemampuan membaca ujaran fase baseline batas atas adalah 37,63 dan batas bawah 32,38. Jumlah data poin pada fase intervensi yang berada pada rentang kondisi baseline yaitu 66,67, dibagi banyak data poin pada kondisi intervensi yaitu 10, jadi 66,67 : 10 = 6,667 dan hasil tersebut dikalikan 100%, maka hasilnya 6,667%. Semakin kecil persentase overlape maka semakin baik pengaruh intervensi terhadap target behavior. Berdasarkan hasil analisis data dalam kondisi dan hasil analisis antar kondisi yang terdapat 21 kondisi, yaitu enam baseline-1 (A-1), sepuluh intervensi (B) dan lima baseline-2 (A-2). Hal ini membuktikan bahwa media animasi power point efektif diterapkan untuk meningkatkan kemampuan membaca ujaran bagi anak tunarungu di sekolah inklusif. Hal ini membuktikan hipotesis diterima yang menyatakan bahwa “Media animasi power point dalam meningkatkan kemampuan membaca ujaran anak tunarungu di SDN Tunas Harapan Cijerah Kota Bandung. Jawaban hipotesis adalah hipotesis diterima.

Berdasarkan hasil analisis dan pengolahan data yang digambarkan dengan grafik garis, dimana penelitian ini menggunakan media animasi power point berpengaruh terhadap peningkatan membaca ujaran pada anak tunarungu kelas IV.
Pada fase baselin-1 (A-1) sebanyak enam kali menunjukkan hasil kinerja anak yang masih stagnan, sedangkan pada treatment (B) menggunakan media animasi power point sebanyak 10 kali menunjukkan kinerja anak ada peningkatan yang cukup baik dan setelah tidak diberikan intervensi atau pada Pada fase baselin-2 (A-2) menunjukkan kinerja anak meningkat secara terus menerus dan stabil. Pengukuran variabel dalam penilaian ini secara persentase, dalam penelitian Single Subject Research menurut Sunanto, dkk (2006: 16) persentase dimaksudkan untuk menunjukkan jumlah terjadinya suatu perilaku atau peristiwa dibandingkan dengan keseluruhan kemungkinan terjadinya peristiwa tersebut dikalikan 100%.                        
Aplikasi Microsoft Power Point dalam komputer menjadi nuansa baru dalam pelaksanaan pendidikan. Komputer dapat menjadi alat bantu guru untuk membuat animasi gambar ataupun tulisan, komputer dapat membantu sebagai alat peraga visual, alat uji siswa dan melakukan evaluasi kinerja siswa. Salah satu program aplikasi yang bisa digunakan di dalam komputer adalah aplikasi power point yang dapat menarik siswa untuk belajar lebih giat lagi.
Pada intervensi membaca ujaran menggunakan media animasi power point, anak dilatih membaca ujaran dengan bantuan visual berupa tayangan gambar benda, kata benda dan video ujaran yang di tampilkan menggunakan media animasi power point. Sebelum diberikan intervensi dengan media animasi power point anak terlihat kesulitan dalam membaca ujaran, setelah diberikan intervensi menggunakan media animasi power point anak terlihat dapat membaca ujaran. Setelah tidak lagi diberikan intervensi menggunakan media animasi power point, anak terlihat dapat membaca ujaran.
Berdasarkan analisis grafik deskriptif dapat disimpulkan bahwa media animasi power point dapat digunakan untuk meningkatkan membaca ujaran kata benda yang terdiri dari dua suku kata dari huruf B, M dan P pada anak tunarungu di sekolah regular yang menyelenggarakan program inklusif.



D. KESIMPULAN DAN IMPLIKASI

1. Kesimpulan
Setelah melakukan penelitian yang dilaksanakan selama dua bulan dapat diperoleh bahwa pada fase pertama atau baseline-1 (A-1) sebanyak enam kali menunjukkan membaca ujaran anak masih terlihat stagnan, pada fase kedua yakni treatment (B) dengan menggunakan media animasi power point sebanyak sepuluh kali menunjukkan ada peningkatan yang cukup baik dan pada fase ketiga yakni baseline-2 (A-2) setelah tidak diberikan lagi intervensi dengan media animasi power point sebanyak lima kali menunjukkan peningkatan membaca ujaran anak terus meningkat dan lebih baik lagi. Berdasarkan analisis grafik deskriptif dapat diambil kesimpulan bahwa terbukti media animasi power point dapat digunakan dalam upaya meningkatkan kemampuan membaca ujaran pada anak tunarungu di sekolah penyelenggara inklusif yakni di SD Negeri Tunas Harapan Cijerah Kota Bandung tahun pelajaran 2013/2014. Ini berarti hipotesis di awal dapat diterima.
2. Implikasi
Berdasarkan hasil penelitian ini, maka peneliti memberikan saran kepada pihak-pihak terkait diantaranya :
1.      Bagi guru, peneliti menyarankan agar guru juga menggunakan media animasi power point dalam pembelajaran bahasa khususnya dan pemebelajaran lain umumnya.
2.      Bagi orang tua, agar sering melatih anak dalam membaca ujaran di rumah, dimana penggunaan media tidak terbatas pada power point saja, melainkan bisa menggunakan media lain yang dapat membantu anak melatih membaca ujaran.
3.      Bagi peneliti selanjutnya, agar media animasi power point dapat digunakan sebagai acuan untuk penelitian yang lebih lanjut.


DAFTAR PUSTAKA

Alimin, Z. (2008). Hambatan Belajar dan Hambatan Perkembangan Pada Anak yang Mengalami Kehilangan Fungsi Pendengaran. [online]. Tersedia: http://z-alimin.blogspot.com/2008/03/hambatan-belajar-dan-hambatan.html.  (19 Juli 2013). 

Al Qur’an dan Terjemahannya (1990). Surat Ke-32 (As-Sajadah): 7–9. Jakarta: Departemen Agama Republik Indonesia.
Aminudin. (2008: 28-29). Semantik Pengantar Studi Tentang Makna. Malang: Sinar Baru Algensindo.
Aqib, Z. (2013:49-50). Model-Model, Media, dan Strategi Pembelajaran Kontekstual (Inovatif). Bandung: CV Yrama Widya. 
Arikunto, S. (1991: 29). Prosedur Penelitian. Jakarta. PT. Rineka Cipta.
Arikunto, S. (2002: 171). Prosedur Penelitian. Jakarta. PT. Rineka Cipta.
Arikunto, S. (2002: 75). Prosedur Penelitian. Jakarta. PT. Rineka Cipta.
Artini, S, dkk. (2004). Terampil dan Aktif Berkomputer. Teknologi Informasi dan Komunikasi untuk SD kelas VI jilid 6. Bandung: Grafindo Media Pratama.
Daryanto. (2013: 5-6). Media Pembelajaran Peranannya Sangat Penting Dalam Mencapai Tujuan Pembelajaran. Yogyakarta: Gava Media DIY.   
Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat. (2011: 5). Buku Informasi PLB. Informasi Grand Desain. Pendidikan Inklusiff. Bandung: Dinas Pendidikan Provinsi Jawa Barat.
Dinas Pendidikan Luar Biasa. (2007). Metode Pengajaran Bahasa Bagi Anak Tunarungu. [online]. Tersedia: http://psibkusd.wordpress.com/about/b-tunarungu/metode-pengajaran-bahasa-bagi-anak-tunarung/. (21 Maret 2013).
Fitriakha. (2011). Contoh Proposal Penelitian Kuantitatif: Eksperimentasi Pembelajaran Matematika Dengan Model Kooperatif Tipe Team Games Tournament (TGT) Terhadap Hasil Belajar Matematika Ditinjau Dari Motivasi Belajar Matematika Siswa Sekolah Dasar Sekecamatan Depok. Pdf. [online]. Tersedia:  http://fitriakha.files.wordpress.com/2003/03/contoh-proposal-usulan-penelitian-kuantitatif. (9 Mei 2012).

Gunawan, D. (2012) Pengantar Perkuliahan Sitem Komunikasi  Tunarungu. PDF. [online]. Tersedia: http://file.upi.edu/Direktori/FIP/JUR._PEND._LUAR_BIASA/196211211984031-DUDI_GUNAWAN/SISTEM_KOMUNIKASI_%274%27_%5BCompatibility_Mode%5D.pdf. (18 Juli 2013).

Hastuti, P. (2011) Pengaruh Media Interaktif Animasi 3 Dimensi Dalam Pembelajaran Terhadap Prestasi Belajar IPA Anak Tunarungu Kelas D6 Di SLB-B YRTRW Surakarta. [online]. Tersedia: http://eprints.uns.ac.id/6097/1/210281011201110411.pdf. (20 Agustus 2013).
Ikhwanudin, A.M. (2010). Skripsi: Pengaruh Media Animasi Terhadap Hasil Belajar Siswa Pada Konsep Asam Basa Terintegrasi Nilai. [online]. Tersedia: http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/bitstream/123456789/1137/1/98332-M.%20IKHWANUDIN%20AL%20FATAKH-FITK.pdf. (7 Mei 2013).
Isbani, S (1987). Komunikasi Anak Tunarungu Wicara. Jakarta: Depdikbud.
KBBI. (1997).  Jakarta: Balai Pustaka.
Martono, N (2010:57). Metode Penelitian Kuantitatif: Analisa isi dan Analisis data Sekunder. Jakarta. Raja Grafindo Persada.
Mudjito, dkk. (2012). Pendidikan Inklusif. Jakarta: Baduose Media Jakarta.

Mulyadi, S. dkk. 2011. Mata Kuliah: Pendidikan Anak Tunarungu1. UPI. Bandung.

Mulyadi. (2011). Anak Tunarungu. [online]. Tersedia: http://cacapan.blogspot.com/p/hearing-impairment.html. (17 Juli 2013).

Pemerintah Kota Bandung, Dinas Pendidikan. (2008: 13). Pembelajaran Berbasis TIK/ICT. Bandung: MGMP TIK.   

Sadja’ah, E. (2002). Layanan dan Latihan Artikulasi Bagi Anak Tunarungu. Bandung: San Grafika.

Soedjito & Saryono, D. (2011: 1-3). Kosakata Bahasa Indonesia. Malang: Aditya Media.

Somad, P & Hernawati, T. (1995). Ortopedagogik Anak Tunarungu. Jakarta: Depdikbud

Somantri, Sutjihati. 2006: 93. Psikologi Anak Luar Biasa. Bandung: IKAPI. PT. Refika Aditama.
Sufanti, M. (2010: 61). Strategi Pengajaran Bahasa Dan Sastra Indonesia. Surakarta: Yuma Pustaka.
Sugiarmin, M. (2007). Makalah Pembelajaran Dalam Seting Pendidikan Inklusiff. Bandung: UPI.
Sugiyono. (2010:58). Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R &D. Jakarta. Alfabeta.
Sunanto, J, dkk. (2006). Penelitian Dengan Subyek Tunggal. Bandung: UPI Press.
Suparno. (2001). Pendidikan Anak Tunarungu (Pendekatan Ortodidaktik) Yogyakarta: Universitas Negeri Yogyakarta. Proyek pendidikan Tenaga guru. Ditjen Dikti Depdikbud.
 Stubbs, S. (2002: 14). Pendidikan Inklusiff Ketika Hanya Ada Sedikit Sumber. Bandung: Disponsori oleh idpnorway. UPI.
Tarigan, H, G. (1990: 2). Pengajaran Gaya Bahasa. Bandung: Anggota IKAPI cetakan ke-3. Angkasa.